EVALUASI PENDIDIKAN

1 Jul

PENDAHULUAN

Proses belajar mengajar merupakan suatu system yang terdiri atas beberapa komponen yang saling berkaitan dan saling berinteraksi dalam mencapai tujuan. Salah satunya ialah evaluasi. Evaluasi sangatlah berperan penting dalam sistem pengajaran karena dengan diadakannya evaluasi ini, prestasi para siswa dapat diketahui setelah menyelesaikan program belajar yang dicapai para siswa dalam kurun waktu tertentu, dapat diketahui ketetapan metode mengajar yang digunakan dalam menyajikan pelajaran, serta dapat diketahui tercapai atau tidaknya tujuan intruksional yang dirumuskan sebelumnya. Dengan demikian evaluai berfungsi pula sebagai feed back (umpan balik) dalam rangka memperbaiki proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan oleh guru.

Dalam proses belajar mengajar (PBM), aspek evaluasi sering kali terabaikan. Artinya  guru, terlalu memperhatikan saat memberi pelajaran saja. Pembelajaran berjalan dengan baik, pratikum berjalan rapi, namun saat membuat soal ujian atau soal pratikum, guru sudah tidak lagi melihat sasaran belajar (sasbel) yang pernah dibuatnya.Akibatnya, soal ujian yang dibuat seperti jatuh dari langit saja.Artinya guru membuat soal ujian tersebut menjadi seadanya atau seingatnya saja, tanpa harus memenuhi kriteria pembuatan soal ujian yang baik dan benar, misalnya apakah soal ujian tersebut sudah sesuai dengan sasbel; apakah memperhatikan aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dsb.

PEMBAHASAN

Prinsip-prinsip dasar evaluasi hasil belajar

Dalam melakukan evaluasi hasil belajar perlu diperhatikan prinsip-prinsip yang harus dipertimbangkan oleh pendidik, agar evaluasi yang dilakukan memberikan hasil yang sesuai keadaan dilapangan. Ada 10 prinsip dasar evaluasi hasil belajar, yaitu :

1. Valid/sahih

Penilaian hasil belajar oleh pendidik harus mengukur pencapaian kompetensi yang ditetapkan dalam standar isi (standar kompetensi dan kompetensi dasar) dan standar
kompetensi lulusan. Penilaian valid berarti menilai apa yang seharusnya dinilai dengan menggunakan alat yang sesuai untuk mengukur kompetensi.

2. Objektif

Penilaian hasil belajar peserta didik hendaknya tidak dipengaruhi oleh subyektivitas penilai, perbedaan latar belakang agama, sosial-ekonomi, budaya, bahasa, gender, dan hubungan emosional.

3. Transparan/terbuka

Penilaian hasil belajar oleh pendidik bersifat terbuka artinya prosedur penilaian, kriteria  penilaian dan dasar pengambilan keputusan terhadap hasil belajar peserta didik dapat diketahui oleh semua pihak yang berkepentingan.

4. Adil

Penilaian hasil belajar tidak menguntungkan atau merugikan peserta didik karena berke butuhan khusus serta perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status
sosial ekonomi, dan gender.

5. Terpadu

Penilaian hasil belajar oleh pendidik merupakan salah satu komponen yang tak  terpisah kan dari kegiatan pembelajaran.

6. Menyeluruh dan berkesinambungan

Penilaian hasil belajar oleh pendidik mencakup semua kompetensi dengan meng  gunakan   berbagai teknik penilaian yang sesuai, untuk memantau perkembangan kemampuan peserta didik.

7. Bermakna

enilaian hasil belajar oleh pendidik hendaknya mudah dipahami, mempunyai arti,  bermanfaat, dan dapat ditindaklanjuti oleh semua pihak, terutama guru, peserta didik, dan orangtua serta masyarakat

8. Sistematis

Penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berencana dan

9. Akuntabel

Penilaian hasil belajar oleh pendidik dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.

10. Beracuan kriteria

Penilaian hasil belajar oleh pendidik didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan.

Namun menurut Suharsimi Arikunto ( Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan : 2008 ) evaluasi hasil belajar dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila dalam pelaksanaannya senan- tiasa berpegang pada tiga prinsip berikut ini:

1. Prinsip Keseluruhan
Prinsip keseluruhan atau prinsip menyeluruh juga dikenal dengan istilah prinsip komprehensif. Dengan prinsip komprehensif dimaksudkan disini bahwa evaluasi hasil belajar dapat dikatakan terlaksana dengan baik apabila evaluasi tersebut dilaksanakan secara bulat, utuh atau menyeluruh

2. Prinsip kesinambungan
Prinsip kesinambungan juga dikenal dengan istilah prinsip kontinuitas. Dengan prinsip kesinambungan dimaksudkan disini bahwa evaluasi hasil belajar adalah evaluasi hasil belajar yang dilaksanakan secara teratur dan sambung menyembung dari waktu kewaktu.

3. Prinsip objektivitas
Prinsip objektivitas mengendung makna, bahwa evaluasi hasil belajar dapat dinyatakan sebagai evaluasi yang baik apabila dapat terlepas dari factor-faktor yang sifatnya subjektif.

Ada satu prinsipumum dan penting dalam kegiatan evaluasi, yaitu adanya triangulasi atau hubungan erat tiga komponen yaitu antara :

  1. Tujuan pembelajaran
  2. Kegiatan pembelajaran atau KBM ( Kegiatan Belajar Mengajar )
  3. Evaluasi

Triangulasi tersebut dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut :

Hubungan antara tujuan dengan KBM

Kegiatan belajar-mengajar yang dirancang dalam bentuk rencana pembelajaran disusun oleh guru dengan mengacu pada tujuan yang hendak dicapai.Dengan demikian, anak panah yang menunjukkan hubungan antara keduanya mengarah pada tujuan dengan makna bahwa KBM mengacu pada tujuan, tetapi juga mengarah dari tujuan ke KBM, menunjukkan langkah dari tujuan dilanjutkan pemikirannya ke KBM.

Hubungan antara tujuan dengan evaluasi.

Evaluasi adalah kegiatan pengumpulan data untuk mengukur sejauh mana tujuan sudah tercapai, begitu juga dalam menyusun alat evaluasi mengacu pada tujuan yang sudah dirumuskan.

Hubungan antara KBM dengan evaluasi

Selain mengacu pada tujuan, evaluasi juga harus mengacu atau disesuaikan dengan KBM yang dilaksanakan.

2. Mengapa Evaluasi Harus dilakukan ( Alasan Melakukan Evaluasi )

Kenapa evaluasi dilakukan ?evaluasi dilakukan karena sangat berguna ( bermakna ) bagi siswa, guru dan sekolah.

a)    makna bagi siswa

Dengan diadakannya penilaian, maka siswa dapat mengetahui sejauh mana telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru.Hasil yang diperoleh siswa ada dua kemungkinan, yaitu memuaskan dan tidak memuaskan.

Jika siswa memperoleh hasil yang memuaskan dan hal itu menyenangkan, tentu kepuasan itu ingin diperolehnya lagi pada kesempatan lain waktu. Akibatnya siswa akan mempunyai motivasi yang cukup besar untuk belajar lebih giat, agar lain kali mendapatkan hasil yang lebih memuaskan lagi.mungkin juga terjadi jika siswa sudah merasa puas dengan apa yang sudah diperolehnya.

Adapun jika siswa memperoleh nilai yang tidak memuaskan, ia akan berusaha agar lainkali keadaan itu tidak terulang kembali. Maka ia akan belajar dengan giat

b)   Makna bagi guru, antara lain :

  • Dengan hasil penilaian yang diperoleh guru akan dapat mengetahui siswa-siswa mana yang sudah berhak melanjutkan pelajarannya, maupun mengetahui siswa-siswa yang belum menguasai bahan. Dengan petunjuk ini guru dapat lebih memusatkan perhatiannya kepada siswa yang belum berhasil.
  • Guru akan mengetahui apakah materi yang diajarkan sudah tepat atau belum. Jika belum diwaktu yang akan datang dapat dilakukan perbaikan.
  • Guru akan mengatahui apakah metode yang digunakan sudah tepat atau belum. Jika sebagian besar dari siswa memperoleh angka yang kurang memuaskan, mungkin hal ini disebabkan oleh pendekatan atau metode yang kurang tepat. Apabila demikian halnya, maka guru hendaknya menggunakan metode lain dalam mengajar.

c)        Makna bagi sekolah, yaitu :

  • Apabila guru-guru mengadakan penilaian dan diketahui bagaimana hasil belajar siswanya, dapat diketahui pula apakah kondisi belajar disekolah sudah sesuai dengan harapan atau belum.
  • Informasi penilaian dari tahun ke tahun, dapat digunakan sebagai pedoman bagi sekolah, apakah yang dilakukan oleh sekolah untuk keberhasilan belajar siswanya sudah memenuhi standar atau belum.

Berdasarkan pada PP. Nomor 19 tahun 2005 tentang standar Nasional Pendidikan bahwa penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah terdiri atas:
a. Penilaian hasil belajar oleh pendidik;
b. Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan;
c. Penilaian hasil belajar oleh Pemerintah.
Setiap satuan pendidikan selain melakukan perencanaan dan proses pembelajaran, juga melakukan penilaian hasil pembelajaran sebagai upaya terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien.

Dalam  PP. Nomor 19 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 64 ayat (1) dijelaskan bahwa penilaian hasil belajar oleh pendidik dilakukan secara berkesinam bungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar dalam bentuk ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Selanjutnya, ayat (2) menjelaskan bahwa penilaian hasil belajar oleh pendi dik digunakan untuk (a) menilai pencapaian kompetensi peserta didik; (b) bahan penyusunan laporan kemajuan hasil belajar; dan (c) memperbaiki prosespembelajaran.

3. Pendekatan dalam evaluasi hasil belajar

Pendekatan yang paling sering dipakai di lembaga-lembaga pendidikan adalah pendekatan penilaian yang membandingkan orang-orang lain dalam kelompoknya, yaitu yang dinamakan Penilaian Acuan Norma (Norm-Referenced-Evaluation), dan pendekatan penilaian yang membandingkan hasil pengukuran seseorang dengan patokan “batas lulus” yang telah ditetapkan, yaitu yang dinamakan Penilaian Acuan Patokan (Criterion Referenced Evaluation).

  • Penilaian Acuan Norma (PAN)

   Secara singkat dapat dikatakan bahwa PAN ialah penilaian yang membandingkan hasil belajar siswa terhadap hasil siswa lain dalam kelompoknya. Pendekatan penilaian ini dapat dikatakan sebagai pendekatan “apa adanya”, dalam arti, bahwa patokan pembanding semata-mata diambil dari kenyataan-kenyataan yang diperoleh pada saat pengukuran/penilaian itu berlangsung, yaitu hasil belajar siswa yang diukur itu beserta pengolahannya. Penilaian ini sama sekali tidak dikaitkan dengan ukuran-ukuran ataupun patokan yang terletak luar hasil-hasil pengukuran sekelompok siswa.

  • Penilaian Acuan Patokan (PAP)

PAP pada dasarnya berarti penilaian yang membandingkan hasil belajar siswa terhadap suatu patokan yang telah ditetapkan sebelumnya. Pengertian ini menunjukkan bahwa sebelum usaha penilaian dilakukan terlebih dahulu harus ditetapkan patokan yang akan dipakai untuk membandingkan angka-angka hasil pengukuran agar hasil itu mempunyai arti tertentu. Dengan demikian, patokan ini tidak dicari-cari di tempat lain dan pula tidak dicari di dalam sekelompok hasil pengukuran sebagaimana dilakukan pada PAN. Patokan yang telah ditetapkan terlebih dahulu itu biasanya disebut “batas lulus” atau “tingkat penguasaan minimum”.Siswa yang dapat mencapai atau bahkan melampaui batas ini dinilai “lulus” dan yang belum mencapainya dinilai “tidak lulus”. Mereka yang lulus ini diperkenankan menempuh pelajaran yang lebih tinggi, sedangkan yang belum lulus diminta memantapkan lagi kegiatan belajarnya sehingga mencapai “batas lulus” itu. Dapat dimengerti bahwa patokan yang dipakai di dalam PAP bersifat tetap.

 Patokan ini dapat dipakai untuk kelompok siswa yang mana saja yang memperoleh pengajaran yang sama. Dengan patokan yang sama ini pengertian yang sama untuk hasil pengukuran yang diperoleh dari waktu ke waktu oleh kelompok yang sama ataupun berbeda-beda dapat dipertahankan. Suatu hal yang biasa menjadi hambatan dalam penggunaan PAP adalah sukarnya menetapkan patokan.Hampir tidak pernah dapat ditetapkan patokan yang benar-benar tuntas.

4.  Langkah pokok dalam evaluasi hasil belajar

Menhers & Lehman ( 1978: 5) mengemukakan bahwa evaluasi ialah suatu proses merencanakan, memperoleh dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternatif-alternatif keputusan. Sesuai dengan pengertian tersebut , maka setiap kegiatan evaluasi atau penilaian merupakan proses yang sengaja direncakan untuk memperoleh informasi atau data. Berdasarkan data tersebut kemudian dicoba membuat suatu keputusan.Informasi atau data yang dikumpulkan itu harus sesuai dengan tujuan evaluasi yang direncakan.

Pada umumnya langkah-langkah pokok evaluasi hasil belajar meliputi tiga kegiatan yaitu;

  1. Persiapan (perencanaan)

Sebelum evaluasi hasil belajar dilak sanakan, terlebih dahulu disusun perencanaan yang baik dan matang. Perencanaan evaluasi hasil belajar pada umumnya mencakup enam jenis kegiatan yaitu;

a)    Merumuskan tujuan dilaksanakannya evaluasi. Perumusan tujuan evaluasi hasil  belajar sangat penting,sebab tanpa tujuan yang jelas maka evaluasi hasil belajar akan berjalan tanpa arah dan pada gilirannya dapat mengakibatkan evaluasi menjadi kehilangan arti.

b)   Menetapkan aspek-aspek yang akan di evaluasi. Misalnya, aspek kognitifnya, aspek afektifnya atau aspek psikomotorik.

c)    Memilih dan menentukan tehnik yang akan di pergunakan di dalam pelaksanaan evaluasi. Misalnya apakah evaluasi itu dilaksanakan dengan tehnik tes atau nontes.Jika dilaksanakan dengan tehnik nontes, apakah pelaksanaanya dengan menggunakan pengamatan (observasi), melakukan wawancara atau angket.

d)   Menyusun alat-alat pengukur yang dipergunakan dalam pengukuran dan penilaian hasil belajar peserta didik.

e)   Menentukan tolak ukur, norma atau kriteria yang akan dijadikan pegangan atau patokan dalam memberikan interpretasi terhadap data hasil evaluasi. Misalnya apakah akan digunakan penilaian Beracuan Patokan (PAP) ataukah akan dipergunakan Penilaian Beracuan Kelompok (PAK) atau Norma (PAN).

f)     Menentukan frekuensi dari kegiatan evaluasi hasil belajar itu sendiri (kapan dan berapa kali evaluasi belajar itu dilaksanakan). Evaluasi hasil belajar dapat dilaksanakan dengan menggunakan alat ukur baik berupa tes maupun non tes

  1. Pelaksanaan.

Melaksanakan evaluasi harus disesuaikan dengan maksud tertentu. Evaluasi formatif dilaksanakan setiap kali dilakukan pengajaran terhadap satu unit pelajaran tertentu. Evaluasi sumatif dilakukan pada akhir program, apakah semester atau kelas terakhir (Evaluasi Belajar Tahap Akhir termasuk pula evaluasi sumatif). Evaluasi diagnostik dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan

 3. Pengolahan hasil.

Penentuan dan pengolahan angka atau skor. Dalam memeriksa pekerjaan hasil evaluasi seharusnya digunakan kunci jawaban, baik untuk evaluasi dengan test essay ataupun tes obyektif. Hal ini disamping untuk mempermudah pemeriksaan juga untuk menghindari unsur subyektif dalam memberikan angka.

Angka yang diperoleh dari hasil pemeriksaan masih dalam bentuk angka mentah. Agar kita memperoleh angka masak (angka terjabar) perlu dilakukan pengolahan dengan menggunakan aturan-aturan tertentu. Untuk menghasilkan angka terjabar ini dasar penentuan angka disesuaikan dengan acuan yang digunakan, apakah aduan patokankan ataukah acuan norma.

Jadi, dapat ditarik kesimpulan tentang langkah-langkah evaluasi hasil belajar yaitu :

1.      Menyusun rencana evaluasi hasil belajar

2.      Menghimpun data

3.      Melakukan verifikasi data

4.      Mengolah dan menganalisis data

5.      Memberikan interpretasi dan menarik kesimpulan

6.      Tindak lanjut hasil evaluasi.

PENUTUP

Melakukan evaluasi hasil belajar  tidak hanya sekedar memberikan soal kemudian membe rikan nilai. Ternyata dalam melakukan evaluasi hasil belajar yang baik itu harus sesuai standar dan prosedur yang sudah dibahas di atas.Jadi mengevaluasi hasil belajar siswa bukanlah hal mudah. Karena dalam melakukan evaluasi yang baik  itu harus sesuai prinsip, langkah, dan pendekatan-pendekatan yang sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan dalam undang-undang pendidikan.

Satu Tanggapan to “EVALUASI PENDIDIKAN”

  1. Rusli September 20, 2011 pada 2:22 pm #

    Artikel anda dapat membantu saya dalam menyelesaikan tugas mengajar saya, namun ada sedikit kekurangan bahwa dalam penyebutan sumber kutipan membingungkan dalam melacak sumber yang sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: